Kajian ilmiah dalam buku ini berangkat dari kegelisahan akademis dan keresahan empiris yang mendalam mengenai fenomena 'Green Implementation Gap' pada rumah sakit umum daerah (RSUD) di Indonesia, khususnya Rumah Sakit Kelas B di Kota Surabaya yang bertindak sebagai simpul rujukan regional utama Jawa Timur. Dokumen kebijakan ramah lingkungan, komitmen akreditasi rumah sakit hijau (Green Hospital), serta instruksi direksi sering kali mengalami pelemahan struktural (policy decoupling) dan stagnasi ketika harus diterjemahkan menjadi perilaku ramah lingkungan nyata oleh para dokter dan perawat di bangsal rawat inap, instalasi gawat darurat, dan kamar bedah sentral.
Secara teoretis, karya ini mendekonstruksi batas-batas kondisi (boundary conditions) dari dua grand theories utama: Resource-Based View (RBV/NRBV) dan Social Exchange Theory (SET). Dalam birokrasi rumah sakit pemerintah yang sarat akan kekakuan status kepegawaian ASN versus BLUD, norma resiprositas pertukaran sosial tidak bekerja secara otomatis. Beban kerja klinis yang ekstrem di bawah ancaman hidup-mati pasien menciptakan hierarki prioritas di mana keselamatan pasien (patient safety) senantiasa mengalahkan kepatuhan administratif lingkungan.
Secara empiris, buku ini menyajikan elaborasi mutakhir dari riset pemodelan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) yang melibatkan 269 dokter spesialis, dokter umum, dan perawat profesional. Temuan penelitian ini menawarkan fakta kontra-intuitif yang membongkar premis konvensional: kebijakan formal Green Human Resource Management (GHRM) tidak secara otomatis mendorong kinerja hijau individu, sementara Green Transformational Leadership (GTL) justru berpotensi memicu resistensi psikologis pasif dan penurunan kreativitas akibat terjadinya kelelahan mental ekologis (green fatigue) dan kelebihan beban peran (role overload).
Surabaya, Alfasyam Jaya Mandiri
21 x 29,7 cm, viii + 186 hlm.
15 Nopember 2026
ISBN:
Pembelian buku cetak: 0859-2478-5142
Pembelian buku digital:


Komentar
Posting Komentar